Semakin berkembangnya populasi penduduk dan meningkatnya permintaan investor sebagai pengembang dikota – kota besar, mengakibatkan pergeseran kedaerah terpencil untuk membuka lahan pertambangan tanah timbunan, hal ini memunculkan satu paradigma buruk dalam ekosistem lingkungan hidup, karena hanyalah kepentingan sepihak yang menggerakkan keinginan pengusaha untuk memenuhi kebutuhan usahanya. Banyak wilayah yang memiliki lingkungan hijau jadi tandus akibat ulah oknum yang mengerok tanah timbunan demi propertiinya tampah mengedepankan pelestarian lingkungan hidup.
Jalur dalam kepentingan ini terkadang saling terkaitan antara
pengembang,pemerintah setempat sampai kewarga dengan dalih membeli lahan mereka
dengan harga relatip murah dan mengerok sepuas –puasnya tambang tanahnya,
lingkungan yang ada disekitar pertambangan sudah barang tentu semua ekosistem
mahluk hidupnya terancam punah baik flora maupun faunanya dan tinggal
menysahkan tanah yang tandus dan kosong
tampah satupun adanya tanda – tanda kehidupan.
Paradigma semacam ini seharunya bisa menjadi fakta kajian
oleh pemerintah, bahwasanya semua penambang yang ingin melakukan eksploitasi
tanah timbunan harus melakukan penkajian secara berkesinambungan tentang efek
yang muncul ketika melakukan pertambangan tanah timbunan, bukan semata – semata
menjadi keutungan proverti dan pengembang, semakin maraknya pembangunan pusat
perbelanjaan dan pengembangan proverti rumah – rumah mewah di kota – kota besar
sehingga sulit terhindarkan adanya pembukaan lahan tambang tanah galiang
dibeberapa daerah terpencil, namun jika saja ada keseimbangan antara penambang
dengan kelestarian liingkungan hidup mungkin jauh lebih bermamfaat, misalnya
izin penambang ada batasan luas,kedalaman, dan jangka waktu kemudian menutup
lokasi dan bertanggung jawab melakukan penhijauan kembali untuk mengembalikan
ekosistem yang rusak, sehingga kebutuhan akan timbunan oleh pengembang dapat
terpenuhi dan untuk lahan yang sudah dieksploitasi dapat kembali fungsinya
lingkungan hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar