Pemberdayaan sumber daya manusia dipelosok terpencil cukup dilema, karena terkadang sarana – prasarana yang kurang mendukung serta penyediaan infrastruktur belum memadai. Hal ini cukup mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat kedaerah yang bersangkutan melalui SKPD, dengan diberlakukannya pendidikan program 9 tahun maka dari situpulahlah keinginan pemerintah untuk membenahi semua pasilitas yang ada mulai dari kota sampai kepelosok.
Suatu kebanggan masyarakat yang bermukim didaerah terpencil
karena mampu mengakses dunia pendidikan tampa harus keluar daerah,namun walau
pemerintah sudah berusaha keras melakukan pemerataan pendidikan dengan dalih
untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tampa terkecuali, tapi terkadang tetap saja
sebatas keinginan karena faktanya dilapangan belum maksimal. Hal ini
dikarenakan sarana yang tersedia didaerah terpencil masih sekedar sarana namun
perangka pelaksana tugasnya belum tertata dengan baik, masih belum adanya
pemerataan penyebaran pendidik secara maksimal.
Jumlah sekolah yang masih dihidupkan oleh tenaga pendidik
sukarela masih terbilang banyak, ini karena masih banyak guru dikota enggan
mengabdi didaerah terpencil yang nota banenya menyalahi sumpah jabatan yang
awalnya siap ditempatkan dimanapun. Membangun paradigma pendidikan di daerah
terpencil salah satu tanggung jawab moral yang di embang oleh para pendidik,
namun tak berhenti sampai disitu terkadang seorang pengabdi ditpaksa menantang
akses jalan yang belum memadai seperti dikota – kota besar. Sarana pendidikan
didaerah terpencil cukup memberi angin segar oleh masyarakat karena anak – anak
bangsa sudah mampu mengakses pendidikan secara geratis dan mapu secara tidak
langsung mengangkat moral keluarganya.
Banyak masyarakat terhindar dari buta huruf dan mampu
mengenal pola hidup modern dengan mendapatkan pembinaan dari sekolah, mampu
berinteraksi dengan pola pikir yang terpelajar dan menjadi contoh baik ditengah
– tengah keluarganya dan masyarakat pada umumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar